Perbudakan

13 Mei 2026

Sejarah pada dasarnya sebuah kumpulan narasi masa lampau. Dari pola pikir dan kehendak memberikan kesadaran, kadangkala manusia menyalahgunakan kesadaran dan kehendak diri untuk menciptakan sejarah yang katanya berpengaruh.

Tak dipungkiri bahwa banyak zaman keemasan, kemunduran yang menyertai bagai tinta bertumpah ruaH di atas kertas kusam. Banyak sejarawan mengatakan bahwa fenomena itu kuat selalu pada zamannya. yang akan saya buka topiknya terkait kemanusiaan, tidak begitu panjang.

Dahulu perbudakan pada masa kolonial tidak serta merta dipandang buruk oleh zaman saat itu, berbeda dengan zaman sekarang pada masa modern perbudakan sudah ditiadakan. Ya mungkin masih ada sedikit tikus tikus kecil dibalik rerumputan gersang nan rimbun. Tapi beruntungnya perbudakan tidak digemborkan seperti dahulu kala. Pada masa abad ke 15 hingga 19 dan puncak terparahnya di abad 17 sampai pertengahan abad 18 yaitu sekitar tahun 1601 sampai 1700.

Perbudakan sudah dihapus karna tidak selaras dengan watak manusia yang memiliki hati nurani. zaman itu budak dianggap sebagai barang atau aset, tidak memiliki hak atau merdeka. bahkan perbudakan yang paling miris di amerika selatan seakan menjadi “mesin” pertanian.

Manusia pada saat itu dikendalikan mungkin sudah dicuci otak dan sistemik yang sudah berakar. Keturunan kolonialisme kadang tidak diberikan sebuah pilihan oleh para pendahulunnya atau orang tua mereka bahwa golongan atas sepertinnya menjajah adalah untuk memberi dampak baik bukan merugikan. Ya dari situ sebuah kemunduran pada kemanusiaan tercipta. Saya tidak mengatakan bahwa perbudakan saat ini sudah bersih pasti ada akarnya yang belum habis tapi tidak menonjol seperti saat dahulu. Karna teriaknya ilmu kemanusiaan dan psikologi yang sudah berkembang.

omong omong sudah hampir 7 bulan saya tidak menulis disini ataupun menulis artikel pendek seperti ini. maaf jika ada kurangnya, see you. Silahkan di kritik jika berkenan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai