Belantara

5 Mei 2025


Di antara kabut dan bayang yang tak bernama, ada sosok yang jarang diceritakan. Bukan pahlawan dengan dada dibusungkan, bukan pula tokoh agung dalam kisah megah. Ia hanya hadir — diam, lembut, namun terluka. Seperti malaikat yang tersesat dalam belantara, ia memikul beban tanpa suara.

——

Goresan Luka




Terdengar derap langkah,
lirih suara pria bergumam.
Kupandang dari sela dedaunan—
sosok menjulang,
mata menyimpan musim hujan.

Siapa dia, di tengah belantara?
Berparas tampan,
namun lusuh rupanya.
Kupikir—
inikah malaikat?
Ataukah hanya manusia yang ditinggal doa?

Langkahku ragu,
namun kutemui juga.
Tanganku terulur—
lalu tubuhku menegang.
Ia… memelukku.

Tuhan…
dosa apa ini lagi?

Diam.
Bahuku basah.
Pria itu—
menangis.

“Shh… Don’t cry, I’m here…”
gumamku lirih,
menenangkan luka yang tak kumengerti.

Tak ada akhir yang pasti bagi perjalanan jiwa. Hanya serpihan rasa yang mengendap dan bertumbuh diam-diam. Jika puisi ini sempat menyentuh benang halus di dalam dirimu, biarlah ia menjadi pengingat bahwa rapuh bukan kelemahan — melainkan bentuk lain dari kekuatan. Dan barangkali, di belantara ini, kita semua sedang belajar menjadi sayap bagi diri sendiri.🌱

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai