Terik Sabana – Bertaut

19 Juni 2025

Kehidupan di antara rerumputan kering pasti banyak duka namun lain dengan hewan yang diperuntukkan menjaga kelestarian alam oleh pencipta. Mereka sudah terbiasa dengan panasnya hawa debu nya tanah kering dan perburuan yang keras. Kini ku merangkai kata tentang raja sabana.



——-

Terik Sabana

Rumput-rumput liar terbakar senyap,
pepohonan berdiri jarang—bagai saksi yang lelah.
Matahari mencambuk bumi,
membuat udara bergetar oleh panas dan lapar.

Di tanah retak itu,
seekor singa berjalan gontai,
auman perutnya lebih keras dari suaranya.
Ia adalah raja—
namun hari ini, ia cuma pengembara haus harap.

Seberkas gerak—rusa.
Jauh di ujung pandang,
terlihat seperti jawab dari langit.

“Tuhan menjawab,” bisiknya.
Namun belum sempat mendekat,
rusa itu melesat seperti cahaya,
menghilang ke balik semak dan debu.

Diam.
Nafas berat.
Tanah masih kering,
perut masih kosong.
Langit tetap biru,
tapi bukan biru yang ramah.

Lalu ia duduk,
tidak pasrah, hanya diam.
Karena di balik diam,
ada sabar yang tahu waktunya sendiri.

Tuhan menakar rezeki dengan adil.
Dan hari ini, bukan giliran sang raja.
Tapi ia percaya: besok mungkin iya.

——

🍃✨

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai